dont spare me with your indiferrent


Mengapa tidak mau mengerti
Tidak kah kau tau
Ah…. bukan begitu
Kau sudah tau
Bahkan sangat tau
Ketika aku memikirkanmu
mencoba tuk memahamimu
tapi yang kutemui hanya jalan buntu
telah ku tulis semua tentang dirimu
memnuhi seluruh lembar buku ku
Dengan menyebut nama Tuhan ku
ku coba tuk memikatmu
agar senantiasa kau menyatu dalam sanubariku
tapi seakan kau diam membisu
begitu acuh padaku
Apa kau begitu membenciku
sungguh aku tidak membencimu
kan ku lakukan semua untukmu
hanya untuk mu Wahai MATEMATIKA ku…
T_T

Tak pernah dalam sejarah perjalanan hidupku mengalami yang namanya patah hati. Sehingga tak ada sama sekali bekas coretan kategori ‘curhat’ yang beraroma sedih dalam diariku. Apalagi sajak-sajak sok puitis yang menggambarkan betaqpa sedihnya patah hati. (terlalu memalankolisasi menurutku) Tapi untuk sajak di atas, aku juga agak bingung. Kenapa juga aku nulis kayak gitu. Ya itung-itung belajar untuk berputisasi yang katanya teman-teman itu keren, bagus, indah dan seni banget. Lepas dari kata temen-temen. Yang pasti sajak itu keluar dari lupaan rasa bingung dan sedikit frustasi dalam mempelajari ilmu hitung.

Ujian kan tinggal dua bulan lagi, jam terbang bimbingan belajar pun jadi padat. seminggu hanya libur satu kali.Kemarin siang adalah jam tayangnya matematika. Wajah langit yang muram saat itu seakan turut menyelimuti hatiku dengan awan hitamnya. Tak dielakkan lagi, jurus langit tersebut begitu ampuh membuat hatiku kehilangan cahaaya. Apa mau di kata? hati ku telah gelap. Hatiku tak dapat lagi menuntunku menuju tempat les.

Mengingat betapa tidak ‘mudengnya’ diriku dengan yang namanya matematika. Membuat hatiku benar-benar tertutup. Dan akhirnya aku pun tergeletak dalam kamar dengan mata terpejam diringi dengan soundtrack gemuruh hujan deras.

Aku bingung, kenapa begitu sulit bagiku untuk memahami matematika? Tapi ada juga temenku yang lebih parah dari aku. Kalau dilihat dari awal, mungkin aku kurang ‘ mencintainya’. Dari dulu, kalau belajar matematika selalu males. Paradigama yang tumbuh dalam pemikiranku adalah matematika itu sulit. Apa memang bersifat herediter ya? Ah tidak mungkin, sungguh pemandangan yang sempit kalo kayak gitu. Buktinya adik ku lebih pintar matematikanya . Tapi kalo masalah menghitung uang, kok lancar-lancar aja ya.

Ataukah karena takdir,,ooh, i’m not a slave of fate. Itu lah yang ada dalam pikiranku. Aku hidup untuk melawan takdir, bukan untuk menjadi budaknya. Takdir hanyalah hasil akhir dari semua yang telah aku lakukan. Jika aku belum ngapa-ngapin dan gak struggle dan strive dengan sungguh-sungguh. Apa seharusnya aku tunduk pada yang namanya takdir. Tidak…!

Mungkin aku telah bersalah pada matematika. Dulu aku begitu membencinya, dan sekarang saat aku begitu membutuhkanny mencoba tuk kembali padanya. Tapi kenyataanya lain, kini matematika yang membenciku dan tak mau mendekat padaku.

Kenapa juga aku bingung, aku memang lemah dalam matematika, tapi aku punya keunggulan di bidang lain. (weeeeh) Bahkan hampir tidak ada, ada tapi sedikit sekali yang bisa menyamai keahlianku, Apa itu? sebagai orang yang berpendidikan dan beragama aku gak boleh sombong, jadi gak usah aku sebutin.

Jadi, intinya, makhluq ciptaaan Nya tercipta dengan keterbatasan. Bukan berarti tidak sempurna. setiap makhluq ciptaanya adalah sempurna. Apalagi manusia. Keterbatasan ato kekurangan dalam diri manusia adalah esensi dari kesempurnaan manusia. Bukanlah kekurangan itu sebagai sebab ketidak sempurnaan manusia. Berbeda dengna Tuhan yang memang mutlak sempurna tanpa ada kekurangan sama sekali..

Kekurangan memang terkadang membawa diri pada kesulitan. Tapi, jangan  salahkan hidup ini. Karena ‘ seluruh kesulitan dalam hidup ini adalah bagian dari suatu tatanan yang sempurna’*

*-Pierre Simon de Laplace

2 thoughts on “dont spare me with your indiferrent

  1. Semangat guysssssss!!!!!
    Setiap manusia punya matahari dalam dirinya, bersinar atau tidak, itu tergantung pilihan manusia itu sendiri.
    Tentang matematika, ilmunya cuman sering2 aja ngerjain soal. Dulu pelajaran kesukaan aku malah matematika, tp sekarang udah banyak lupa, ga pernah ngerjain soal lagi sich

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s