UN, the new Figure


Hari-hari ini aku begitu disibukkan dengan pelajaran yang numpuk. Maklum, bentar lagi dah mau UN. Untuk sekedar blogging aja gak kesampaian, ditambah lagi ide-ide dalam otakku seakan error karena selalu diserang tugas-tugas sekolah. Terkadang aku pun juga merasa agak desperte, pusing, dan yang paling tidak aku suka adalah naiknya kadar emosi.

Apa sebegitu beratnya rintangan seorang pencari ilmu. Aku jadi ingat perkataan William Shakespeare, yaitu “sebenarnya tidak ada yang baik atu buruk kecuali pikiran yang membuatnya demikian”. Entah, bagiamana dia meramu kata seperti itu. Tapi, dari perkataanya tersebut, aku jadi paham bahwa mencari ilmu itu tidak sulit dan tidak juga gampang.

Semuanya relatif, tergantung setiap individu. Kalo pengen mudah, ya belajar yang rajin, kalo pengan sulit, ya rajin malas-malasan, beres kan……..!

Dengan diadakannya UN, mungkin diharapkan bagi siswa agar mempunyai kemampuan pendidikan yang kompeten. Tapi, satu hal yang menjadi sebuah ironi, bahwa sekolah seakan membentuk siswa agar menjadikan UN sebagai ‘Tuhan Baru’ yang harus ditakuti. Kalau sudah takut UN, maka apapun akan dilakukan untuk menaklukannya. Aku jadi bangga dengan UN, karena dia telah mampu menempatkan dirinya menjadi tokoh yang paling berpengaruh dalam menghabisi semangat generasi muda Indonesia.

Mulut memang bisanya beromong kosong, tapi realita akan tetap jadi bukti autentik, meski diselundupkan sedimikan rupa. Sampel dari data hasil try out yang diadakan oleh SMA elite di Mojokerto, dari setiap program, yang tidak lulus mencapai 90%. itu yang elite, yang bangga dengan status ‘Akreditasi A’ nya. Dan data dari hasil try out yang diadakan Primagama, 98% siswa tidak lulus.

Sebegitu bodohnya kah? Tidak juga, buktinya aku dan temen-temenku lulus terus, khusus try out Primagama, temenku yang masuk 5 besar aja yang lulus. Aku yang masuk peringkat 8 dari 212 siswa program IPS saja tidak lulus, apalagi dibawahku, jauh dari kata lulus. Wow..!! aku bangga sekali dengan diriku dan sekolahku. (untuk paragaraf ini, semua kata memang sengajadiaromai dengan aura kenarsisan, dan sedikit kesombongan)

Sudah menjadi rahasia umum jika UN selalu diwarnai dengan manipulasi. Dewan pendidikan pura-pura tidak tau akan hal ini. Jika mereka tahu dan sadar, mereka akan menghapus UN. Tapi mereka malah mempersulit UN, dan membuat sekolah akan semakin ‘kreatif’ dalam memanipulasi UN. Apa ini yang sebenarnya diharapkan oleh dewan pendidikan. Menanamkan nilai kebejatan dalam pendidikan yang dibungkus cantik dengan kebijakan-kebijakan paradoks.

Sekolah merupakan social elevator, bukan tempat sekedar transfer of knowledge, tapi juga humaniora. Sekecil apapun kebaikan dan kejelekan yang diajarkan di sekolah, akan selalu ada pengaruhnya. Jika dalam dunia pendidikan saja telah tumbuh sebuah akar ketidakjujuran, maka suatu saat akan tumbuh sebuah pohon kebohongan. Dari sini terbentuk manusia-manusia ‘bertopeng’, maka tidak akan bisa diketahui sebuah kebenran dibaliknya. Dan manusia akan hancur dengan topeng mereka.

Tapi, dunia ini berada pada ruang yang nisbi, tidak ada yang pasti. Paradigma pendidikan penuh manipulasi perlu diluruskan, bahwa tidak setiap sekolah atau lembaga pendidikan seperti itu.

Dan untuk guruku
yang selalu mengajarkan kejujuran
terima kasih,
karena kau telah menampakkan wajah kami
tak lagi ada topeng dibaliknya
dan kebenaran
senantiasa menatap
sekali lagi, terima kasih

4 thoughts on “UN, the new Figure

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s