Just moment..


Adzan subuh masih bersahut-sahutan dengan derasnya rintik hujan. Mata msih terlalu malas tuk terbuka. Sampai akhirnya,jreeeeeeeeeeengg…
Matahari sudah nongol duluan, ya Allah, aku telat sholat subuh.(dalam hati penuh sesal)

Entah, pagi itu aku merasa kecapekan, jadi secara gak lazim aku melakukan ritual mandi pagi untuk menyegarkan tubuh.(terbiasa mandi malam kayak orang jepang).:->

Tanah masih basah tersiram derasnya hujan pagi, tapi ternyata matahari gak malu-malu menampakkan dirinya. Sang mendung terpaksa harus mengalah. Yah,,, hari yang cerah.

Entah apa yang menggiring hati ini, tiba-tiba saja aku seakan menjadi pangeran yang haus akan keadaan rakyatnya dalam menjalani realita hidup.(gubrakkkkkkkkkkkkk). Dengan pakaian ala kadarnya, dengan santai kaki melangkah menyusuri gang-gang sempit di komplek. Sampai kemudian sampai di jalan raya.

Inilah Jakarta,kota  penuh dengan potret kehidupan yang begitu kompleks, berbagai kendaraan dari yang mewah sampai mewek sliwar-sliwer di jalanan. Berbagai model manusia melintas. Di depan pijat  refleksi, para manula sedang mengantre, mungkin osteoporosis dan berbagai penyakit sedang menikmati tubuh mereka. (Terbesit dalam hati). “Ah, entar aku juga beranjak menuju tua, apakah aku akan sama seperti halnya mereka? Atau bahkan gak sempat menginjak tua. Tuhan, meski sebentar, aku bersyukur masih bisa mengingat kematian.

Perjalanan still going on, langkah masih tak terhenti, terlihat pedagan pangsit, nasi uduk, gorengan, dll (dan lupa lagi). Mereka dengan sabar menunggu pembeli, dalam pemandangan itu terlihat kontras. Satu pedagang ramai oleh pembeli, yang satu lagi sepi, ada yang cuma sedikit pembeli. Ah, itulah memang yang harus terjadi. Hukum tak kan selalu benar dan tak kan selalu salah. Tuhan menciptakan keseimbangan hidup yang begitu luar biasa. Ah, kenapa aku lupa akan hal ini, kenapa aku sering mengeluh kalau aku lagi terpuruk, tapi lupa padaNya kalau sedang bahagia. Tuhan, meski sebentar, aku bersyukur masih bisa mengingat ke Agungan Mu.

Kontinyu.. Ini lebih kontras lagi, di depan sebuah dealler motor yang lumayan besar, seorang bapak-bapak yang terlihat luxurius and executif class dengan gagah menaiki sedan buatan Jerman, tapi di samping mobil mewah itu terlihat sosok kumal dan lusuh yang kayaknya keasyikan memungut sampah-sampah yang mungkin masih bisa di tukar dengan sesuap nasi.(miris). (terbesit dalam hati). Seandaianya aku menjadi orang itu, apakah yang aku rasakan?Apa hidup ini begitu kerasnya?Aku tak kan pernah tau, karena aku bukanlah si pemulung. Tuhan, meski sebentar, aku bersyukur masih bisa mengingat rahmat yang begitu luas yang telah Kau berikan padaku.

Tuhan, lagi-lagi aku lupa pada Mu
jika dengan makhluq Mu saja aku gak paham
bagaimana aku bisa memahami Mu

Ah, capek juga jalan-jalan. Perut kayaknya dah krucuk-krucuk. Mampir ke warung nasi rawon kayaknya maknyus banget, sekalian melepas kangen masakan khas jawa timur. hehehe

17 thoughts on “Just moment..

  1. hahahaha :))
    piet baca ini sambil ngakak ka,,,
    ada² aja..
    kok bisa subuhnya telad…???
    jangan salahkan Allah jika doa di kabulnya juga telad…
    hehehe😀

    ayoo kita koreksi diri bersama… ^^

  2. menikmati hidupselama masih di dunia tapi jangan sampai terbui dan lupa akan hakekat kita yang nantinya akan kembali padaNYA….

    pengalam pribadi neh ya, sangat menarik…..

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s