Aqidah Ahlussunnah wal Jam’ah: “Allah ADA TANPA TEMPAT”


Beberapa waktu yang lalu, saya kesasar di web muslimah.or.id, saya kaget dengan artikelnya yg berjudul “jika masih ada yg bertanya-tanya “dimanakah Allah”. Dalam al-qur’an sudah jelas disebutkan bahwa

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (QS. as-Syura: 11)

Yang lucu adalah, ketika saya komen dan menjelaskan semua qaul-qaul ulama’ salaf dan kholaf yang menganggap bahwa aqidah yg menyebutkan kalo Allah duduk di atas arsy itu adalah aqidah kufur, mereka gak mau nampilin komenku, komenku malah dihapus. saat saya nulis artikel di blog ini baru saya kirimi mereka semua hujjah dari para ulama’ yg menentang paham mereka. Tapi entah, coba buka muslimah.or.id dihapus atau tidak, saat ini masih ada, entah besok atau besoknya lagi. Dan ternyata komenku di hapus lagi, bahkan komenku lebih banyak dari artikelnya. itu menunjukkan mereka tak mau menerima kebenaran.

COBA baca komen dibawahnya dari Ummu Sufyan, yang dia sebutkan selain Imam Malik, Bayhaqi, Abu Ja’far At-Thahawi, Bukhari, Ibnu Mas’ud adalah ulama’2 wahabi. Bahayannya, ualama’2 ahlussunannah seperti Imam Malik dan yg saya sebut di atas qaul-qaulnya diselewengkan dengan disyarahi oleh orang2 wahabi sendiri. Baca juga coment dari binsajen, dia sangat parah, dia mendustakan qaul Sayyidina Ali Radliyallahu anhu yang aku cantumin dalam komenku. Dan berhati-hatilah membaca artikelnya, dia seorang wahabi tulen, yang mengharamkan maulid nabi.

Berikut adalah pendapat ulama’ tentang paham yang menyebutkan kalau Allah  itu tidak sama dengan makhluq Nya dan tidak bertempat pada Arsy:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang berbicara tentang tanzih (mensucikan Allah dari menyerupai makhluk), at-Tanzih al Kulliy; pensucian yang total dari menyerupai makhluk. Jadi maknanya sangat luas, dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa Allah maha suci dari berupa benda, dari berada pada satu arah atau banyak arah atau semua arah. Allah maha suci dari berada di atas arsy, di bawah arsy, sebelah kanan atau sebelah kiri arsy. Allah juga maha suci dari sifat-sifat benda seperti bergerak, diam, berubah, berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain dan sifat-sifat benda yang lain.

Al-Imam Abu Hanifah berkata:
أنـّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَـه artinya: “Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya”.
Dengan demikian Allah tidak menyerupai makhluk-Nya, dari satu segi maupun semua segi.
Al-Imam Malik berkata:وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ
“Kayfa (sifat-sifat benda) itu mustahil bagi Allah”.
Perkataan al-Imam Malik ini diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Bayhaqi dengan sanad yang kuat. Maksud perkataan al-Imam Malik ini adalah bahwa Allah maha suci dari al Kayf (sifat makhluk) sama sekali. Definisi al Kayf adalah segala sesuatu yang merupakan sifat makhluk seperti duduk, bersemayam, berada di atas sesuatu dengan jarak dan lain–lain.

الْمَحْدُوْدُ عِنْدَ عُلَمَاءِ التّوْحِيْدِ مَا لَهُ حَجْمٌ صَغِيْرًا كَانَ أوْ كَبِيْرًا، وَالْحَدُّ عِنْدَهُمْ هُوَ الْحَجْمُ إنْ كَانَ صَغِيْرًا وَإنْ كَانَ كَبِيْرًا، الذَّرَّةُ مَحْدُوْدَةٌ وَاْلعَرْشُ مَحْدُوْدٌ وَالنُّوْرُ وَالظَّلاَمُ وَالرِّيْحُ كُلٌّ مَحْدُوْد

“Menurut ulama tauhid yang dimaksud dengan al-mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al-hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran dan disebut Mahdud demikian juga arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran dan disebut Mahdud “.

Al-Imam Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- berkata:
مَنْ زَعَمَ أنَّ إِلهَـَنَا مَحْدُوْدٌ فَقَدْ جَهِلَ الْخَالِقَ الْمَعْبُوْدَ   (رَوَاه أبُو نُعَيم
“Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W 430 H) dalam Hilyah al-Auliya, juz 1, h. 72).

Al-Imam al-Ghazali (semoga Allah merahmatinya) berkata:
لاَ تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إلاّ بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah (seorang hamba) kecuali setelah mengetahui (Allah) yang wajib disembah”.
Artinya barangsiapa yang tidak mengenal Allah dengan menjadikan-Nya memiliki ukuran yang tidak berpenghabisan misalnya maka dia adalah kafir. Dan tidak sah bentuk-bentuk ibadahnya seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya.

Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi ( 227-321 H) berkata:
تَعَالَـى (يَعْنِي اللهَ) عَنِ الْحُدُوْدِ وَالغَايَاتِ وَالأرْكَانِ وَالأعْضَاءِ وَالأدَوَاتِ لاَ تَحْوِيْهِ الْجِهَاتُ السِّتُّ كَسَائِرِ الْمُبْتَدَعَاتِ
“Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

Allah berfirman:   فَلاَ تَضْرِبُوْا لِلّهِ الأمْثَالَ (سورة النحل
“Janganlah kalian membuat serupa-serupa bagi Allah”(QS. an-Nahl: 74)
Dengan demikian barangsiapa mengatakan bahwa Allah memiliki hadd yang hadd tersebut tidak ketahui oleh kita, hanya Allah saja yang mengetahuinya maka sungguh orang ini adalah seorang yang kafir, karena dengan demikian dia telah menetapkan Allah sebagai benda yang memiliki bentuk dan ukuran.
Maksud perkataan ath-Thahawi ”La Tahwihi al-Jihat as-Sittu…” bahwa Allah mustahil berada di salah satu arah atau di semua arah karena Allah ada tanpa tempat dan arah. Enam arah yang dimaksud adalah adalah atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang.
Maksud perkataan ath-Thahawi ”Ka Sa-ir al-Mubtada’at” adalah bahwa semua makhluk diliputi oleh arah, sedangkan Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dari satu segi maupun semua segi dan Allah tidak bisa digambaarkan dalam hati dan benak manusia.

al-Imam Ahmad ibn Hanbal mengatakan:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فاللهُ بِخِلاَفِ ذَلِكَ  (روَاه أبُو الفَضْلِ التَّمِيْمِيُّ

“Apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu”. (Diriwayatkan oleh Abu al Fadll at-Tamimi).
Jika ada pertanyaan: Bagaimana hal demikian itu bisa terjadi (bahwa ada sesuatu yang ada tetapi tidak bisa dibayangkan dan digambarkan dengan benak)? Jawab: Bahwa di antara makhluk ada yang tidak bisa kita bayangkan akan tetapi kita harus beriman dan meyakini adanya. Yaitu bahwa cahaya dan kegelapan keduanya dulu tidak ada. Tidak ada satupun di antara kita yang bisa membayangkan pada dirinya bagaimana ada suatu waktu atau masa yang berlalu tanpa ada cahaya dan kegelapan di dalamnya?! Meski demikian kita wajib beriman dan meyakini bahwa telah ada suatu masa yang berlalu tanpa dibarengi dengan cahaya dan kegelapan.

Sebenarnya, masih buanyak sekali qaul-qaul ulama’ yang menyebutkan bahwa Allah ada tanpa tempat, ini masih belum termasuk qaul-qaul dari ulama’2 di indonesia sendiri. Ulama’2 di indonesia seperti KH. Hasyim Asya’ari, Syekh Nawawi al-Bantani, Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Abdullah dan banyak lagi juga menyebutkan dalam kitab2nya bahwa Allah itu maha suci dari tempat dan tidak membutuhkan tempat. Dalam muslimah.or.id lihat siapa ulama’ yang diambil rujukan. Semua ulama’ itu adalah ulama’ wahabi seperti Ibnu Taimiyah.

Untuk lebih jelas dan lebing lengkap masalah aqidah saya link dari facebook salah satu ustadz saya di sini, juga di sini, atau di sini . Untuk mengetahui siapakah Ibnu Taimiyah selain dari kitab “Tasynifil Masami'” karya Syekh Badruddin az-Zarkasyi yang menukil bahwa Ibnu Taimiyah dikafirkan oleh para ulama’ pada masa itu, lihat DI SINI DAN  DI SINI.

Kawan, islam yang kaffah bukanlah mereka yang  BERJENGGOT PANJANG, KENIGNYA HITAM, CELANA CINGKRANG, BERKERUDUNG LEBAR, BACAAN QUR’ANNYA LANCAR, TAPI ISLAM yang kaffah selain melakukan sunnah yang dianjurkan al-qur’an hadits dan ijma’ ulama’ TAPI JUGA HARUS BER’AQIDAH YANG BENAR, jika AQIDAH KITA KUFUR seperti BERKEYAKINAN ALLAH BERTEMPAT DI ARSY ATAU TASYBIH “MENYAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUQNYA”, maka jelas hal itu TELAH MENGELUARKAN DARI ISLAM, percuma dan sia-sia meski ibadah kita tak pernah putus, tapi beraqidah kufur maka TAK ADA GUNANYA AMAL KITA yang tak pernah putus tersebut. KAWAN, DALAM BELAJAR TAUHID DAN AQIDAH, BELAJARLAH PADA ULAMA’ AHLUSSUNNAH, JANGAN SAMPAI TERSESAT PADA ORANG WAHABI, MEREKA ITU ORANG BARU MUNCUL, TAPI MERASA SOK BENAR. AKU HANYA MENGIKUTI PENAFSIRAN AL-QUR’AN DAN HADITS DARI ULAMA’ SALAF DAN KHOLAF AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH KARENA DALAM HADITS TELAH DISBUT
خَيْرُ الْقُرُوْنِ قَرْنِي ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ )رَوَاهُ التّرمِذِي
“Sebaik–baik abad adalah abad-ku, kemudian satu abad setelahnya, kemudian satu abad setelahnya” (HR. at-Tirmidzi)..
Dan menurut ulama’ salaf dan kholaf keyakinan Allah bertempat pada arsy atau menyerupakah Allah dengan makhluq adalah KUFUR, MAKA apa kita harus diam saja?

wallahu’alam bisshowaab…

41 thoughts on “Aqidah Ahlussunnah wal Jam’ah: “Allah ADA TANPA TEMPAT”

  1. saya tidak mau meributkan sesuatu. saya lebih suka berpikir bila kita mendekat pada Allah, maka Allah akan mendekat pada kita lebih cepat lagi. Terima kasih atas renungannya. Masih belajar agama Islam, masih memperkuat fondasi… ijin follow ya…

    • dalam islam, aqidah sangat penting, jika kita beribadah dengan tekun, rajin sholat, selalu mendekatkan diri pada Allah, tapi aqidah kita kufur, maka sia-sia saja semua amal ibadah kita…
      OK, akan saya backlink

  2. seingat saya membaca buku agama islam..
    pernah ada seorang budak di tanya oleh sahabat..dimanakah Allah berada..
    Sang budak hanya menujuk keatas dengan jarinya..
    dan Rasulullah membenarkannya..bahwa Allah itu berada di Arsy..

    • hadits itu adalah hadits jariyah, menurut al-imam bayhaqi dlm “sunan kubro” mengatakan hadits itu dloif karena mudltorib yaitu isi hadits tersebut bertentangan dengan prinsip agama, kemudian imam nawawi dalam kitab syrh shohih muslim, mengatakan hadits jariayah itu shohih TAPI MA’NANYA HARUS DITA’WIL, kata “AINA” dima’nai dengan pertanyaan “SEBERAPA TINGGI PENGAGUNGANMU KEPADA ALLAH”, kata “AS-SAMAA'” ma’nanya DITA’WIL adalah “DERAJAT YG SANGAT TINGGI BAGI ALLAH”, dan hal itu tidaklah bertentangan dengan qoidah b.arab, krn dalam syair arab, aina dima’nai seperti itu, dan sbagian dalam syir arab langit dima’nai derajat yg tinggi, jadi tidak ada dalil bagi orang wahabi UNTUK MENYBUTKAN ALLAH BERTEMPAT DI ARSY…

      • trus lu mau mengingkari al-qur’an?,firman Allah swt bahwa Allah bersemayam diatas Arsy-Nya,al-ilmu qobla qoul wa amal..

      • mengingkari???? ayat itu dita’wil kok diingkari, silahkan baca tafsir2 ulama’ salaf, jgn kitab ibnu taimiyah saja.

      • istawa dalam bahasa arab bukan bermakna bersemayam saja, bisa bermakna menguasai dan menjaga, silahkan belajar lagi ilmu bahasa arabnya dan tafsirnya, silahkan bantah dengan ilmu, bukan bantah dngn emosi tanpa ilmu, percuma kalau saya jelaskan ta’wil para ulama’ salaf tp Anda tidak ngerti

  3. salam sobat
    sip bisa ngunjungi linknya sahabat Ustad di FB.
    saya jadi tahu jelas tentang aqidah.
    benar Allah ada , yakin.walaupun kita manusia tidak bisa melihat, tapi bisa menikmati semua karena Allah swt.

  4. mm, kemudian bagaimana anda menafsirkan ayat ini?

    “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid :4)

    terutama pada bagian Kemudian Dia ber’semayam’ di atas Arsy.
    terima kasih.

    • itu sudah saya bahas di atas, dan lihat link link dari ustadz yg saya sebutkan, bahwa shohabat abdullah ibn umar, menafsiri lafat bersemayam dengan “menguasai”. begitu juga para ulama’ salaf dan kholaf…
      SEBENARNYA, DALAM BAHASA ARAB “ISTAWA” BUKAN HANYA BERMAKNA “BERSEMAYAM”, TAPI HANYA ORANG WAHABI SAJA YG MEMAKNAI SEPERTI ITU, IMAM AL-QUSYAIRI MEMAKNAI “ISTAWA” DENGAN “HAFIDZO”, SEPERTI YG DIJELASKAN OLEH PARA ULAMA’, LAFADZ “ISTAWA” WAJIB DITAKWIL MA’NANYA DENGAN MA’NYA “YANG SESUAI” DENGAN SIFAT-SIFAT ALLAH.
      LANTAS KENAPA ORANG WAHABI GAK MAU MEMAKNAI “ISTAWA” DENGAN ARTI YANG SESUAI DENGAN SIFAT ALLAH????
      DISINILAH NILAI KESESETANYA, SEPERTI HADITS NABI YG DIRIWAYATKAN OLEH BUKHORI, KETIKA SAHABAT MEMINTA DIDOAKAN SYAM DAN YAMAN, NABI MENDOAKAN KEDUA KOTA TERSEBUT, KEMUDIAN SHOHABAT MEMINTA DIDOAKAN JUGA KOTA NEJD, TAPI NABI MENJAWAB “BIHA YATHLA’U QARNU AS-SYAITHON”… DAN SEKARANG MUNCULLAH DI NEJD ATAU RIYADL FAHAM WAHABI YG DIBAWA OLEH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB YG MEMBAWA KEKUFURAN DI DALAM ISLAM…

  5. saya juga ingin tahu bagaimana menurut anda tentang sifat-sifat Allah seperti Maha Melihat yg tertera di Al Qur’an. Melihat adalah perbuatan manusia. Bila, seperti kata anda, mustahil bagi Allah untuk menyerupai manusia, berarti Allah sesungguhnya tidak melihat? Jika melihat saja tidak mungkin, bagaimana Ia bisa jadi Maha Melihat?

    Boleh jadi Allah memang melihat, tapi ‘melihat’nya Allah berbeda dengan melihatnya manusia. itulah kenapa ia disebut Maha Melihat. Penglihatan manusia terbatas. Penglihatan Allah tidak.

    walaupun karena ini saya nantinya dicap kafir, saya tidak takut. karena saya yakin Allah Maha Mengetahui. bukan sekedar tahu, tapi benar2 Maha Tahu dan tidak ada satu pun manusia menyamai pengetahuan Allah.

    • inilah kuasa Allah, Allah maha melihat, maha mendengar, tapi, melihatNya Allah dan mendengar Nya Allah tidak sama dengan makhluq Nya, seperti yg di katakan Imama Malik. “mahama tasshowwarta bibaalik, fa-Allahu bikhilafi dzalik”. maksudnya : “Apapun yang kmu pikirikan tentang Allah, maka Allah tidak seperti itu”. kalo kita berpikir “kaifiyah” Allah itu sama dengan makhluq, maka yg ada dipikiran kita adalah bahwa Allah selalu menyerupai makhluq Nya…

      • berarti di sini setidaknya saya menemukan satu persamaan: bahwa tidak ada satu pun yang menyerupaiNya.

        kenapa menurut anda kaum wahabi keliru ketika mereka mengatakan Allah juga memiliki tangan. Bukankah dalam hal ini, sebagaimana melihatNya Allah berbeda dengan makhlukNya, bisa pula ditafsirkan tanganNya Allah janganlah dibayangkan seperti tangan makhlukNya (memiliki batas, merupakan bagian dari anggota tubuh, dan sebagainya)?

        bila anda bilang arsy, sebagaimana angin, memiliki ukuran, saya ingin tahu bagaimana caranya mengukur arsy? apa yg membedakan arsy dgn ardhi? bagaimana penjelasan para ulama mengenai arsy ini?

      • Allah tidak menyerupai sama sekali dengan Makhluq Nya. Wahabi juga meyakini Allah mempunyai kaki, bahkan dengan pikiran bodohnya mempraktekan “dudukNya” Allah di atas Arsy, yg mempraktekkannya adalah ibnu Taimiyah.. dalam Al-qur’an ada juga lafadz “yadullah”, tapi disini dima’nai kekuasaan Allah, tidak dima’nai secara dzohir lafadz “yad”, karena tidak sesuai dengan sifat Allah, dalam hadits disbutkan kalau Arsy adalah makhluq Allah yg terbesar, kalau masalah ukuran saya tidak mengerti batasannya, untuk penjelasan ulama’ tentang arsy insya Allah akan saya replay lagi, sekarang saya masih sibuk dengan UAS dan masih perlu muroja’ah lagi karena jujur saya masih sering lupa dengan dalil2 dan qaul2 ulama’.

  6. “Wahabi juga meyakini Allah mempunyai kaki, bahkan dengan pikiran bodohnya mempraktekan “dudukNya” Allah di atas Arsy, yg mempraktekkannya adalah ibnu Taimiyah”

    lain kali anda mereply pesan saya, bolehkah mencantumkan sumber tentang pendapat anda ini. saya sudah membaca artikel di muslimah.co.id dan tidak sekalipun menemukan argumen bahwa mereka menganggap ‘tangan’ dan ‘kaki’ Allah menyerupai hamba Nya. saya justru menemukan, bahwa sesungguhnya dilarang mempertanyakan bagaimana sesungguhnya Allah ‘bersemayam’ di atas arsy, bahwa itu adalah sesuatu yang tidak dapat dicapai nalar.

    pada bagian ‘tidak dapat dicapai nalar’-lah, saya teringat argumen al-Imam Ahmad ibn Hanbal yg anda kemukakan di atas, “apapun yang terlintas dalam benak kamu (tentang Allah), maka Allah tidak seperti itu”.

    kurang lebihnya saya setuju dengan pendapat itu. karena kita belum pernah melihat wujud Allah itu seperti apa. sama halnya seperti kita ditakdirkan menjadi buta sejak lahir. maka bayangan apapun yg ada di kepala kita tentang benda tidak akan persis sama dengan benda yg sebenarnya. apalagi dalam konteks Allah ini, kita tak hanya seperti orang buta, tapi layaknya kelihangan semua indra.

    ketika yadullah dipahami sebagai ‘tangan’ oleh sebagian, dan ‘kekuasaan’ oleh sebagian yang lain, tidakkah pada intinya Allah ingin mengatakan bahwa Ialah yg memberi rejeki sebagaimana yang Ia kehendaki, bukan ‘tangan-tangan’ orang Yahudi. jika ‘tangan’ yg dimaksud dalam QS Al Maidah 64 tidak merujuk kepada ‘tangan’ sebagai organ (tetapi sebagai pemberi rejeki), saya tidak melihat di mana letak sesatnya.

    dalam bahasa arab, yad sendiri memiliki 14 arti. tidakkah anda heran, mengapa Allah memilih menggunakan kata tersebut? agar kita menggunakan akal kita untuk berpikir. karena itu satu-satunya yg membedakan kita dengan binatang.

    sukses untuk UASnya. dan walaupun saya masih penasaran dengan apa dan bagaimana arsy itu, direply-nya kapan-kapan saja, jika waktu anda sedang longgar.🙂

  7. Allahuakbar
    nice post kira
    saya paling stuju banget sama yang terakhir tuh
    jilbab dalam, jenggot panjang, and something like that tidak sama dengan Islam yang kaffah
    saya masih sering ketemu cewek berjilbab dalam yang pacaran.hehehe
    kadang yang kayak gitu justru bikin gosip dan bikin jelek nama Islam
    huhuhu
    oh iya
    kamu boleh aja kok ikutan bagi2 tas di blog yulia
    siapa tahu klo menang nanti bisa di kasih ke adek, saudara, atau siapanya gitu😀
    ikutan yaaa
    hehehe

  8. Saya setuju bgt…wahaby memang selalu memaknai al-qur’an hanya sebatas makna harfiyah’x saja…sementara kita tahu bahwa al-qur’an adalah kalam Allah yang sangat balaghah yang tentu saja mempunyai keluasan makna yang tidak bisa dicapai jika hanya melihat apa yang tersurat tanpa mengetahui apa yang tersirat…sayangnya meskipun mereka punya kelemahan (tidak mampu meraba makna yang tersirat), mereka malah menganggap bodoh para ulama yang sudah tidak diragukan lgi keilmuannya…mengapa saya katakan demikian??
    Sebab saya pernah berbincang dengan teman saya yang wahaby, dia melarang saya untuk “taqlid”. Inti percakapannya seperti ini:

    Teman: npa sech masih za taqlid ??

    Saya: taqlid itu apa bro?

    Teman: taqlid itu mengikuti atau ngekor.

    Saya: ouh.. karena ane masih bodoh bro, belum bisa memaknai al-qur’an dan al-hadist dengan makna yang sebenarnya, karena ntu ane taqlid ma ulama yang udah benar2 ngerti al-qur’an dan al-hadist…dan dalam hal ini ane b’kiblat ma imam asy-syafi’i…

    Teman: syafi’i (sebutan yang kurang sopan menurut saya) itu manusia biasa yang mungkin saja punya banyak kesalahan bro..jadi seharusnya ente kembali pada al-qur’an dan al-hadist, bukannya malah taqlid.

    Saya: benar, imam as-syafi’i juga memang manusia biasa, tapi tingkat keilmuannya sudah sangat tinggi,terbukti dg hasil karyanya yang di akui kebenarannya oleh para ulama. Jika ente katakan imam asy-syafi’i mungkin punya banyak kesalahan, apalagi kita bro…orang bodoh yang cara2 shalat ja tahu nya dari orang lain.

    Teman: kalo ente kembali pada al-qur’an dan al-hadist, ente g perlu tahu shalat dari orang lain, sebab dalam al-hadist udah jelas nabi bersabda: shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat…

    Saya: apa ente pernah melihat Rasulullah shalat?

    Teman: belum

    Saya: lantas drmn ente tahu bahwa shalat yg ente lakukan tuh seperti shalatnya Rasul?

    Teman: dari al-hadist

    Saya: dapat hadistnya dari siapa?

    Teman: dari guru ane lah bro.

    Saya: ntu namanya..taqlid taqlid juga bro..ane ngikut ma imam asy-syafi’i dan ente ngekor ma guru ente yang ntah ilmu nya segimana.
    Udahlah bro drpd taqlid ma yang g jelas mending taqlid ma orang yang udah jelas..

    Teman: ??? (diam, lalu pergi)

    Saya bangga sunny, saya bangga jadi murid imam asy-syafi’i (meskipun g scara lgsg belajar dri beliau), saya bangga mengikuti imam Abu Mansur al-Maturidy, saya bangga 1 madzhab dengan Hujjatul Islam al-Ghazali, saya bangga satu barisan dengan Amirul mukmin fi al-hadist imamaen Bukhory dan Muslim. Semoga Allah menjadikan saya tetap dalam sunny, tetap dalam golongan yang menghormati ulama dan memuliakan nabi..amien.

    Eh, kepanjangan ya komen nya??
    G pa-pa kan??

    • 🙂.. begitulah mereka, aku jg sering debat ma mereka, aku jg pernah lihat video perdebatan wahabi ma sunni, mereka itu mudah bgt dikalahkan, tapi ya gitu,sifatnya yg ngeyel dan sok bener emang ga bisa diilangin, diingatkan seperti apapun gak bisa, emang ga punya otak, g bisa bedain mana yg bner dn mana yg salah.

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s