Maulid Nabi:Siapa Yang Berani Bilang Sesat?


Sejarah Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Peringatan maulid nabi pertama kali dilakukan oleh raja Irbil Mudzaffaruddin al Kawkabri pada awal abad ke 7 H. Ibnu Katsir dalam kitab tarikhnya berkata: “Raja Mudzaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabi’ul awwal dan beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang pemberani, pahlawan, alim dan adil-semoga Allah meridlainya-“. Dielaskan Sibth (cucu) Ibnu al-Jawzi bahwa dalam peringatan tersebut beliau mengundang seluruh rakyatnya dan seluruh para ulama dalam berbagai disiplin ilmu, baik ulama fiqh, hadits, kalam, ushul, tasawwuf dan lainnya. Ribuan kambing dan unta disembelih untuk hidangan para tamu yang akan hadir dalam perayaan Maulid Nabi tersebut. Segenap para ulama saat itu membenarkan dan menyetujui apa yang dilakukan oleh raja al-Muzhaffar tersebut. Mereka semua mengapresiasi dan menganggap baik perayaan maulid Nabi yang digelar untuk pertama kalinya itu.
Diantara para ulama’ yang menganggap perayaan maulid adalah suatu yang baik adalah al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-‘Iraqi (W 806 H), Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam an-Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam (W 660 H), mantan mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H), Mantan Mufti Bairut Lebanon; Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih banyak lagi para ulama besar yang lainnya. Bahkan al-Imam as-Suyuthi menulis karya khusus tentang maulid yang berjudul “Husn al-Maqsid Fi ‘Amal al-Maulid”. Karena itu perayaan maulid Nabi, yang biasa dirayakan di bulan Rabi’ul Awwal menjadi tradisi ummat Islam di seluruh belahan dunia, dari masa ke masa dan dalam setiap generasi ke generasi.

Hukum Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulid Nabi masuk dalam anjuran hadits nabi untuk membuat sesuatu yang baru yang baik dan tidak menyalahi syari’at Islam. Rasulullah bersabda:

مَنْ سَنَّ فيِ اْلإِسْـلاَمِ سُنَّةً حَسَنـَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ

(رواه مسلم في صحيحه)

“Barang siapa yang memulai (merintis) dalam Islam sebuah perkara baik maka ia akan mendapatkan pahala dari perbuatan baiknya tersebut, dan ia juga mendapatkan pahala dari orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikitpun”. (HR. Muslim dalam kitab Shahihnya).
Faedah Hadits: Hadits ini memberikan keleluasaan kepada ulama ummat Nabi Muhammad untuk merintis perkara-perkara baru yang baik yang tidak bertentangan dengan al-Qur’an, Sunnah, Atsar maupun Ijma’. Peringatan maulid Nabi adalah perkara baru yang baik dan sama sekali tidak menyalahi satu-pun di antara dalil-dalil tersebut. Dengan demikian berarti hukumnya boleh, bahkan salah satu jalan untuk mendapatkan pahala. Jika ada orang yang mengharamkan peringatan Maulid Nabi, berarti telah mempersempit keleluasaan yang telah Allah berikan kepada hamba-Nya untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang belum pernah ada pada masa Nabi.

Salah Satu Fatwa Ulama’ tentang Maulid
Fatwa Syaikh al-Islam Khatimah al-Huffazh Amir al-Mu’minin Fi al-Hadits al-Imam Ahmad Ibn Hajar al-‘Asqalani. Beliau menuliskan menuliskan sebagai berikut:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً” وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ.

“Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya, jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah”. Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih)”.

Kerancuan Faham Kalangan Anti Maulid
jika ada yang menyatakan “Peringatan Maulid Nabi tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah, juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabatnya. Seandainya hal itu merupakan perkara baik niscaya mereka telah mendahului kita dalam melakukannya”. Maka kita jawab: “Baik, Rasulullah tidak melakukannya, apakah beliau melarangnya? Perkara yang tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak sertamerta sebagai sesuatu yang haram. Tapi sesuatu yang haram itu adalah sesuatu yang telah nyata dilarang dan diharamkan oleh Rasulullah. Karena itu Allah berfirman:
وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا (الحشر: 7)
Apa yang diberikan oleh Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS. al-Hasyr: 7).

Dalam hadits shohih lainnya Nabi bersabda:
مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه مسلم
Dalam hadits ini Rasulullah menegaskan bahwa sesuatu yang baru dan tertolak adalah sesuatu yang “bukan bagian dari syari’atnya”. Artinya, sesuatu yang baru yang tertolak adalah yang menyalahi syari’at Islam itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan pernyataan Rasulullah dalam hadits di atas: “Ma Laisa Minhu”. Karena, seandainya semua perkara yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah atau oleh para sahabatnya adalah perkara yang pasti haram dan sesat dengan tanpa terkecuali, maka Rasulullah tidak akan mengatakan “Ma Laisa Minhu”, tapi mungkin akan berkata: “Man Ahdatsa Fi Amrina Hadza Syai’an Fa Huwa Mardud” (Siapapun yang merintis perkara baru dalam agama kita ini maka ia pasti tertolak). Dan bila maknanya seperti ini maka berarti hal ini bertentangan dengan hadits riwayat Imam Muslim di atas sebelumnya. Yaitu hadits: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan….”. Padalah hadits riwayat Imam Muslim ini megandung isyarat anjuran bagi kita untuk membuat suatu yang baru, yang baik, dan yang sejalan dengan syari’at Islam.
Dengan demikian tidak semua perkara baru adalah sesat dan tertolak. Namun setiap perkara baru harus dicari hukumnya dengan dilihat persesuaiannya dengan dalil-dalil dan kaedah-kaedah syara’. Bila sesuai maka boleh dilakukan, dan jika menyalahi maka tentu tidak boleh dilakukan.

Kawan, di bulan rabiul awwal ini, mari kita mengharap berkah dari Rasulullah agar hidup kita jadi lebih berkah, berhati-hatilah pada orang wahabi yang mengharamkan maulid, itu menunjukkan mereka tidak cinta pada Rasulnya sendiri.  Wahabi sudah menjalar di Indonesia, dalam partai ada P*S yang pahamnya adalah wahabi, dari luarnya aja keliatan baik tapi aqidahnya menyesatkan. Jika ulama’-ulama’ salaf dan kholaf aja membenarkan maulid, kenapa orang wahabi atau P*S yang baru muncul tiba-tiba menyesatkan dan mengharamkan maulid??? Uraian di atas masih singkat, tapi setidaknya kawan bisa berpikir sendiri, mana yang benar dan mana yang salah. Untuk lebih lengkapnya tentang bahasan maulid nabi. Buka di SINI

Semoga dengan merayakan maulid, dengan bacaan sholawat yang kita lantunkan untuk Rasulullah bisa memberi berkah pada kehidupan kita. Amiin.

41 thoughts on “Maulid Nabi:Siapa Yang Berani Bilang Sesat?

  1. Saya menulis pro dan kontra tentang maulid Nabi. Tapi tulisan tentang Keteladanan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak dicari di google search, termasuk entry favorit di blog saya. Ma kasih infonya…

    • kalau tulisan tentang keteladanan nabi Muhammad emang udah banyak dan banyak yg tau, tapi kalo masalah pro kontra ini banyak yg gak ngerti, dan mereka yg g mau melaksanakan maulid seenaknya saja mengharamkan dan menyesatkan yg malaksanakan maulid dengan tanpa dalil yg benar.

    • ratna, yg aku tulis tidak untuk dikontroversikan, aku dah sering jelasin ke kamu kan, sekarang bedain sendiri. dengan berpikir obyektif kamu akan ngerti, kalo masih g ngerti ya parah kamu.

  2. kalo kata ustad nur maulana, hukum ngerayain maulid itu bisa jadi makruh kalo yg ngerayain jatuh miskin gara-gara ngerayain maulid. malah bisa juga haram, kalo ngerayain tapi ga pada sholat. peace! wallahu a’lam bisshowab. :))

    • aneh juga, disisipin seperti itu, hanya alasan untuk mengesampingkan perayaan maulid, tanya aja, gak jauh-jauh, kalo orang shodaqoh ditakutkan jatuh miskin, apa hukumnya jg jadi makruh? jika kita yakin dengan rohmat Allah dan berkah dari nabi Muhammad, gak akan ada keyakinan seperti itu, saya orang dari desa, dan orang desa yg kemampuannya pas-pasan tetep bisa merayakan maulid dengan ikut mengirim makanan untuk orang yang maulid.
      dan setiap yg wajib emang harus didahulukan dari yg sunnah, sholat jelas lebih utama,

  3. waduh bahaya nih,,,
    saat peringatan hari lahir kita sah2 saja dirayakan, tapi hari lahir junjungan kita , suri tauladan tercinta Muhammad SAW diperingati, malah pada bilang sesat, ckckck…😦

  4. mantaabbb artikelnya..
    ho oh, aneh aja rasanya dianggap sesat cm gara2 ngerayain maulid nabi. Padahal disetiap maulid selalu ada kajian ttg perjalanan Rasulullah, buat org2 awam mgkn itu bisa jd jalan buat mengenal sosok Rasulullah. Lagian, berkumpul bersama saudara menyusuri kembali perjalanan Rasulullah berarti sdh menjalin silaturahmi sesama muslim.

  5. haduh bener2 saya rasa orang2 tertentu yg bikin huruhara kayak gini agar para muslim jadi bingung tom…susah memang kalau orang yg gak ngerti agama kita asal berprasangka

  6. tlg ungkapkan pula tujuan serta hasil yang di dapat setelah melakukan peringatan maulid yang pertama itu..juga tata cara di dalamnya…lalu bandingkan dgn peringatan yang di lakukan umat muslim kita pada masa sekarang…juga tengok pula keadaan kaum muslimin pada masa sekarang..?.

    • tujuannya banyak, mensyukuri atas nikmat Allah, dan rasa cinta kita pada Nabi Muhammad, hasilnya banyak, pahala udah gak usah dibicarakan lagi, udah ada haditsnya kan, selain manfaat kita pada diri sendiri juga pada orang lain kan. tata caranya adalah yang penting di dalam acara maulid itu tidak ada ma’siat, dalam acara maulid dibacakan al-qur’an, sholawat, tahlil, doa, dan disuguhkan makanan shodaqoh, mana yang sesat? mana yang dilarang? keadaan kaum muslim sekarang masih seperti itu, masih menjaga tradisi ulama’2 dulu, kecuali mereka2 golongan baru itu saja.😀

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s