Preface kesiangan.


Salam kenal semuanya bagi anda yang yang sempat membuka blog ini. dalam kesempatan kali ini aku ingin menulis sebuah preface yang telat. jujur saja, aku masih bingung untuk apa aku buat blog. lha wong sebelumnya belum sempat aku rapatkan dulu dan juga belum ada keputusan secara aklamasi bahkan belum sempat juga sholat istikhoroh, (ekstrim bgt sih)

Tapi, karena takdir telah ikut campur dan mungkin juga telah berkonspirasi dengan hati. aku tak sanggup menolak lahirnya blog ini. meskipun blog ini bukan “blog haram” atau hasil hubungan gelap yang kelahirannya tak diinginkan. namun aku rela mengorbankan seganjil hartaku dan ratusan sampai puluhan ribu detik waktu. sampai halangan dan rintangan semua datang menghadang hanya untuk “menghidupkan” sebuah softwre dunia maya yang tak nyata ini.

Bagaimanpun juga, aku sebagai warga Indonesia yang berjiwa Nasionalis, Sosialis, Pluralis, Humanis, protagonis, puitis, non atheis, nggak bengis, dan suka meringis. aku hanya ingin sedikit belajar secara virtual. aku merasa diwarisi kebudayaan yang tak dimiliki oleh kebanyakan negara G8. (sebenarnya kurang tepat memakai kata “diwarisi”, tapi nggak etis kalau pakei kata ditakdirkan, terkesan menyalahkan Tuhan.)

Yah, suatu budaya yang membuat otak bisa ditawar mahal, (aku biasa menyebutnya dengan) “empty brain”. orang yang benar-benar berotak kosong akan segera protes dan melakukan konfrontasi, subversi bahkan demonstrasi besar-besaran. bagaimana tidak, otak bukan balon udara yang kosong berisi udara. otak berisi sel-sel, organ-organ yang mampu menyimpan jutaan tera sampai exa byts.

Kosong adalah lawan dari berisi. tapi disini keduannya bukan lagi antonim, tapi menjelma menjadi sebuah sinonim. otak yang berisi jadi kosong karena terlalu sering mangkrak. menjadikannya kosong akan kontemplasi dan yang pasti kosong akan ilmu. jadi jika anda ingin punya rongsokan yang masih mewah, beli saja BMW lalu taruh terus di gudang.

EEhhmmm, suatu uraian yang sok tau dan sok teoritis memang, terkesan ingin menyaingi Einstein dan berharap dapat Nobel. Wah sebuah vonis kepagian yang tak melihat sisi-sisi intuisi, esensi, eksistensi, suatu masalah. lepas dari semua itu, yang mana aku hanya ingin dan masih mencoba untuk mengembangkan kemampuanku dalam berkontemplasi itu aja.

Dan….(oh ya), disini aku kan hanya berniat mau nulis preface, kok jadi mblarah kemana-mana. maka dengan sangat menyesal aku harus menutup pidato pembuka ini. dalam tulisan ini tidak ada niat untuk propaganda atau hal-hal yang persuasif. jika setuju atau tidak ya katakan aja. semua tulisan ini masih tertulis dalam sudut pandang yang sangat sempit.

ini adalah “preface” untuk postingan blog pertama dulu, aku tulis lagi karena aku mengingat-ingat lagi buat apa aku ngeblog, hari-hari ini aku sangat dipusingkan dan disibukkan dengan urusan-urusan duniawi, pengejaran mimpi, Ya Allah, semoga aku tidak lupa pada Mu karena urusan duniaku.  untuk teman-teman blogger, maaf kalo lagi agak gak sempat main-main lagi ke rumah teman-teman.

Salam blogger dan tetep semangat dari saya.

biar tambah semangat, untuk Mizz Blue terima kasih atas awardnya.



26 thoughts on “Preface kesiangan.

  1. hai mas kira…

    Sayang banget kalo mas Kira ga ngeblog, soalnya Blog ini mengandung postingan2 yang kata-katanya sarat makna, seneng Mas bacanya, hehe…

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s