Bila Debu Menangis


Di sini sebutir debu.

Seonggok batu tertegun lalu berteriak, “Hai, Debu! Kemana perginya kawan-kawanmu?”

Debu mendesah lirih, “Sudahlah, Batu. Izinkan saja aku mencengkeram kulitmu”

Debu merapat.

Merayapi punggung Batu.

Merayap, dan hanya mendapati siluet tubuhnya sendiri di sana.

Debu Menetes.

Terisak.

“Wahai, Debu. Apa yang membuatmu menghancurkan diri sendiri seperti itu? Hapus air matamu!” Angin menegur, kemudian berderak pelan.

Debu terdiam

Dan kemudian tiba-tiba ia meloncat, meninggalkan punggung Batu.

Batu memekik dalam diam.

Melayanglah sebutir debu itu.

Terhempas dalam pelukan Angin/

Angin mengerang sesal,

“Debu, jangan bodoh! Apa yang kau lakukan?”

Debu melayang bersama Angin.

Meninggalkan Batu yang berteriak parau,

“Angin, jangan Kaubawa dia! Berhentilah!”

Angin berputar bingung lalu memekik, “Aku tidak bisa! Aku harus terus berlari.”

Angin terisak, Batu membatu.

“Sudahlah Angin. Bawa aku pergi. Aku ingin bertemu kawan-kawanku,” Debu memohon.

Seekor burung melesat menghablur dalam arus Angin.

Sepasang sayap ringkihnya, menahan deru Angin.

“Hentikan! Jangan konyol!” teriak Pipit.

“Tidak, Pipit. Aku ingin bertemu kawan-kawanku, keluargaku.” Debu tergulung Angin yang kini mulai berputar kencang.

“Tapi ini bisa membunuhmu!” Pipit masih bertahan.

“Bedebah!” hentak sebuah suara, tiba-tiba. Badai, dan Angin telah menghilang.

Pipit terhempas ke tanah.

Badai memeluk keras Debu.

Debu diam.

Melayang.

Badai akan membawaku pada kawan-kawan dan keluargaku?

Debu melirik ke bawah, pucat.

Lalu Batu, Pipit, dan Angin?

Kalian

Debu tidak diam.

Tubuhnya bergetar dalam pelukan Badai.

Sesuatu putuh kecil mencuat dari sepasang pundaknya.

Mengembang.

Sepasang sayap putih mengepak-ngepak.

Menerjang, lepas dari dekapan Badai

Dan mengepak.

Mendarat di bantaran bebatuan.

Merekat, menggigit kulit bebatuan.

Menyedot tahun-tahun yang mungkin panjang.

Sepasang matanya tak mampu beralih dari sebuah genangan.

Genangan penuh lolongan nyeri.

Genangan yang dulunya adalah kawan-kawan dan keluarganya.

Genangan yang dulunya seperti dia, Debu.

Genangan lumpur yang merana itu.

 Mojokerto, 31 Mei 2007

Ditulis oleh sahabat lama:

Sahabat yg satu ini paling kecil di kelas, tapi paling cerewet dan paling suka nge-gosip. Pengetahuannya luas, dari masalah gosip-gosip lokal sampai internasional, dari masalah kantor sampai dapur, dari artis internasional sampai artis kampung dia hapal semua. Namanya Hanif Junaedy Ady Putra, paling akrab dipanggil Juned, tapi dipanggil guru Bahasa Indonesia “adek kecil”.😀
Dari jamannya pondokku masih banyak rumput alang-alang ni anak emang sudah menonjol dalam berkata-kata. Lawan yang berat untuk sekedar “nyek-nyek’an” (ledek-ledekan), bukan hanya itu, dia jg lawan yang berat di kelas, tapi ringan untuk dibanting. Tak ayal jika dia mampu lolos seleksi Beasiswa Depag. Kini dia sedang melanjutkan studi hukum di Universitas Gajah Mada. Tulisannya sudah sering seliwar-seliwer di majalah lokal Mojokerto. Tampangnya juga malah lebih sering seliwar-seliwer di dapur dan kebun. Penyuka serial Harry Potter dan kisah-kisah fantasi ini mempunyai mimpi yang besar meski badannya kecil. Tak pengen kalah dengan J.K Rowling, dia selalu mengucap mantra2 aneh dalam kata-katanya, juga tak pengen kalah dengan Mashashi Kishimoto, dia selalu mengeluarkan chakra yang bahkan melebihi chakra kyubi dalam semangat meraih mimpi2nya.
Alumni ke empat Pesantren Al-Amin ini tengah belajar ngeblog, meski kesibukannya di bidang hukum dia tetep suka menulis, teman-teman jika mau berkunjung ke blognya silahkan klik DISINI. Dia masih awal ngeblog, jadi kalo ada kekurangan silahkan kasih saran dan masukan.

“Jun, jangan lupa yah, promosi ini gak gratis loh.” wkwkwkwkwkwk

34 thoughts on “Bila Debu Menangis

  1. awalnya dhe terkesima, kirain itu beneran tulisan mas Kira.. hampir aja dhe puji habis-habisan.. hahahaa, tapi begitu tahu kalo itu karya si om Juned itu, dhe makin niat pengen beneran muji.. baguuuuuuuuuuuuusss!!!!!!!! sukaaaaaaaaaaaaaaa!!! salam untuk om juned ya mas😛

  2. jadi ikut terbang
    anganku terpeluk angin melayang
    sampai akupun datang
    pada debu yang sedang
    mencari keluarga dan kawan….

    debu maafkan aku
    salah menilaimu
    dan aku baru tahu
    ternyata kau lembut kalbu

  3. wooooooooooo, saya tidak suka menggosip, tapi hanya “berdiskusi” tentang apa saja (majaz eufimisme). hahahha.
    thom, aku ngakak baca tulisanmu tentang profilku. kau berbakat jadi penulis biografi. hahah.
    dan terimakasih atas bantuannya thooom😉

    iya, saya newbie. salam kenal dan terima kasih semuanya… mohon kritik dan sarannya,🙂

  4. Baik banget kamu mas, promosiin blog temen. Puisinya kang Juned bagus banget, kok bisa ya ngerangkai kata-kata kayak gitu. Eh… itu termasuk puisi, kan? Buka kelas nggak, ya? hehe…

    salam kenal, aku tunggu kunjungan baliknya🙂

  5. Wakakakkk.. ternyata ini promosi toh.. dan gak gratis. Sabarr yaaaa mas Junedd..😀

    Tulisannya keren eiuyy.. jadi,. si debu,.. keluarganya kena banjir? tanah longsor? gunung meletus???
    Dan ternyata batu juga bisa membatu ya…

  6. maju terus,,,,,aku akan ikuti setiap gerak tangan dan goresan tinta kalian….
    kita prnah bersama dalam berbagai situasi,,,
    dan aku pasti tersenyum mengingatnya,,,,
    kini senyum itu akan terus mengembang dan pasti akan menjadi tawa bangga,,,

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s