Merobohkan Berhala Ijazah; Sebuah Usaha Memanusiakan Manusia


Saat mengamati ujian doktoral, Nietzsche (1891) pada waktu itu menulis:
Apakah tugas seluruh pendidikan tinggi? Mengubah manusia menjadi mesin
Apa sarannya? Orang harus belajar untuk tahan menjadi bosan
Bagaimana hal itu dicapai? Orang harus belajar untuk tahan menjadi bosan
Bagaimana hal itu dicapai? Dengan konsep kewajiban
Siapakah yang dipandang orang sempurna? Pegawai negara

Selanjutnya, pada tahun 1970, melalui Deschooling Society, giliran Ivan Illich yang berkhotbah ihwal pendidikan. Menurutnya, sekolah tidak serta merta sama dengan pendidikan. Sekolah, baginya, bersifat mekanistik dan telah memancung kemanusiaan. Institusi ini hadir sejalan dengan masyarakat industri yang kapitalistik. Alhasil, ijazah menjadi alat yang paling ampuh untuk menaikkan kelas sosial, bahkan nafas kehidupan, lantaran telah melegitimasi kompetensi sekaligus kualitas seorang manusia. Kini, betapapun kepandaian seseorang hingga melangit, bila tanpa ijazah ia acapkali hanya akan (dianggap) menjadi sampah. Sebaliknya, betapapun bodohnya seseorang hingga melata, bila dengan ijazah, ia akan (dianggap) seindah mutiara.
Bila dibandingkan dengan pesantren, dengan santri sebagai peserta didik, yang terjadi malah sebaliknya. Lazim dimafhumi bahwa Pesantren tidak menyediakan ijazah bagi santrinya. Kecuali pesantren yang kini sudah banyak dikombinasikan dengan sekolah. Dulu, kelulusan seorang santri tidak tersekat masa. Ia dianggap lulus bilamana siap mengabdi pada masyarakat. Tingkat keahliannya tidak diukur dari ijazah, tapi dari kebermanfaatannya pada masyarakat. Baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, dan terutama ialah agama. Kelak, setelah mereka lama mengabdi, kebanyakan dari mereka akan bergelar Kyai tanpa memintanya dari masyarakat, akan tetapi diadili seadil-adilnya sesuai dengan pengabdiannya.

Gus Dur misalnya, sudah pernah belajar di beberapa universitas luar negeri seperti di Mesir, Bagdad, Canada, Australia, dlsb, tetapi tak pernah mengantongi ijazah. Hanya ilmu yang ia bawa pulang untuk disumbangkan ke masyarakat. Dengan tanpa ijazah, ketika tiada, tanpa meminta, ia diberi gelar Guru Bangsa

Dengan begitu, seorang santri, apalagi yang duduk di perguruan tinggi, sudah semestinya tidak menyekutukan Tuhan dengan ijazah. Bahwa yang memberi mulutnya makanan dan minuman bukanlah ijazah, akan tetapi Tuhan. Bahwa bukan ijazah yang bermanfaat bagi masyarakat, akan tetapi ilmu. Lebih dari itu, seorang santri, bila kuliah mengemban amanah untuk membebaskan lingkungannya sekaligus umat manusia. Memanusiakan robot-robot perguruan tinggi seperti yang dituduhkan Nietzche. Dengan kata lain, jikalau mengamini bahasa Albert Camus, novelis, esais dan penulis drama berkebangsaan Perancis yang memperoleh Nobel sastra pada 1957 dalam Le Mythe de Sisyphe (1942) atawa Myth of Sisyphus (1955), ialah membebaskan manusia yang terkurung dalam absurditas. Yakni orang yang hanya hidup untuk meritualkan ritus rutinitas dengan mendorong batu ke puncak gunung, namun, selalu gagal. Batu itu kembali menggelinding ke lembah dan ia harus kembali mengangkatnya ke puncak. Begitu seterusnya. Sekadar menjalani rutinitas dengan penuh siksaan sembari dengan bangga mengenakan mahkota kebanggaan dan kemenangan. Padahal, kematian sudah menunggu di ujung jalan. Mereka hidup tanpa arti! Sampai Mati!

Ditulis oleh sahabat lama:
Yang satu ini juga sahabat seperjuangan yang dulu pernah sama-sama tidur, mandi, makan, bermain, berkelahi, main bola, bercanda, melanggar peraturan pondok, keluar malam, ngopi di warung, mengambil jatah makan lebih, kentu-kentutan, ketek-ketekan, dan menimba ilmu bareng-bareng di pesantren Al-Amin. Namanya lengkapnya Muhammad Mishbakhul Ulum, dengan nama sapaan “Omas”. Bukan tanpa alasan dia dipanggil Omas, bukan karena wajahnya yang mirip artis komedi Omaswati, tapi lebih karena suaranya yang keras dan paling suka nyerocos melebihi ibu-ibu arisan malem jum’at. Seperti Fitri Tropika yang pernah kena ultimatum saat TK yang pesan rapotnya hanya disuruh kurangi bicara, temenku ini juga waktu pengambilan rapot ortunya dipeseni agar dia kurangi volume suaranya. Entah, apa dari bakat nyerocosnya dia sekarang jadi bisa masuk jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Gajah Mada yang juga melalui jalur beasiswa Depag untuk pesantren. Anak pertama dari bapak Mushofa ini dulu lumayan di kelas, dari lumayan nakal, lumayan suka melanggar peraturan, lumayan gak nyambung bahasa inggris, tapi juga lumayan dalam hitung-menghitung dan nahwu shorof. Dan aku paling sering nyontek PR matematikanya. Hohohoho😀
Dulu memang dia tak aktif di jurnalist pesantren dan lebih aktif di kajian kitab kuning, mungkin karena punya impian lama yang ingin nerusin jejak ayahnya yang jadi ustdz. hohohoho , tapi dia adalah anak yang gemar membaca, khususnya yang berbau-bau sosial. Meski masih tergolong anak yang bukan pendiam (pissss ^^) tapi untuk ukuran wawasan dan menulis tidak bisa dianggap remeh, dia anak pertama di angkatanku yang pernah nulis artikel dan dimuat di harian Jawa Pos. Banyak tingkah, banyak omong, banyak kentut, (oh iyah, dialah satu-satunya yang bisa mengimbangi ‘kentutku’ hahahahaha😀 ) dan banyak ilmu. Itulah dia. Dia lebih sering menulis yang agak berat tentang sosial kemanusiaan, dia juga punya blog, kalau pengen tahu beberapa tulisannya silahkan langsung mampir DI SINI.

“Mas, sedikit jelek-jelekin awkmu ra po po toh. hahahahaha”

14 thoughts on “Merobohkan Berhala Ijazah; Sebuah Usaha Memanusiakan Manusia

  1. aku juga punya temen seperti dia, aku ga nyangka klo dia sekaran8g jdi salah satu mahasiswa d Al a43shar padahal dia nyantri d leler ga tau dia dpt ijasah SMA atau ga tpi ilmu nya boleh d adu🙂

  2. kayaknya beberapa postingan mas Kira akhir2 ini spesial untuk mempromosikan blog sahabat2nya.. salam kenal untuk mas Omas.. eh, gk enak banget manggilnya ya?? mas Omas?? hahahhaha, yowes lah ben..😛

  3. “betapapun kepandaian seseorang hingga melangit, bila tanpa ijazah ia acapkali hanya akan (dianggap) menjadi sampah. Sebaliknya, betapapun bodohnya seseorang hingga melata, bila dengan ijazah, ia akan (dianggap) seindah mutiara..”

    Lebih parahnya lagi, dengan setumpuk uang saja ijazah sudah bisa berada dalam genggaman. Hmmm..

  4. Assalamu ‘alaikum Mas.

    Bagaimanapun saya setuju dengan tulisan “Berhala Ijazah” ini. Ijazah menjadi alat yang paling ampuh untuk menaikkan kelas sosial. Kini, betapapun kepandaian seseorang hingga melangit, bila tanpa ijazah ia acapkali hanya akan (dianggap) menjadi sampah. Sebaliknya, betapapun bodohnya seseorang ga dirinyahingga melata, bila dengan ijazah, ia akan (dianggap) seindah mutiara.

    Bahkan banyak yang rela menjual harga dirinya untuk mendapatkan sebuah Ijazah. Dan ini terjadi di semua lapisan masyarakat. Dari kelas bawah sampai kelas atas, bahkan sampai yg paling atas. Harga dirinya dijual hanya untuk selembar Ijazah, yang dicari adalah pengakuan dan status. Berharap dengan Ijazah ini, harkat dfan martabat serta jabatannya bisa meningkat.

    Saya punya banyak teman, yang walaupun tamatan SMA, tetapi pemikiran yang dihasilkan mungkin melebihi mereka yg kuliah S1. Tapi ini mungkin sdh jamannya. Dan masyarakatlah yang paling bersalah, karena bukan hakekat diri yang dinilai, tetapi keberhasilan dinilai dari pangkat, jabatan, pendidikan dan kekayaan. Bila tidak menjabat, tidak berijazah atau tidak kaya, maka seseorang belum dikatakan berhasil. Walaupun secara emosional dan spiritual sangat terpuji.

    Salam Takzim,
    Bagus H. Jihad

  5. saya jadi teringat negeri 5 menara, di ponpes tempat alif belajar juga tidak dibekali ijazah. ijazah itu sendiri adalah keikhlasan dan ilmu🙂
    tapi kalau tidak ada ijazah hari gini, bagaimana melanjutkan belajar ke tahapan selanjutnya ya?

    • Ummul Khairi: menurut saya, ijazah bukan segalanya. Kalau mau melanjutkan ya tetap pake ijazah. Pun, melanjutkan ke tahap selanjutnya bukan nyari ijazah yang lebih tinggi, tapi ilmu yang lebih tinggi. Yang namanya belajar kan nyari ilmunya, bukan ijazahnya. hehehe

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s