Antara Aku, Kopi dan Rokok


بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamualaikum, apa kabar sobat, berjumpa lagi dengan saya penghuni blog World of Kira, setelah sekian lama menghilang dari dunia perbloggingan, alhamdulillah akhirnya kembali juga, mungkin para fans (bo’ong banget) sudah menantikan postingan-postinganku yang selalu fresh, sarat makna, dan penuh cita rasa (lagi-lagi bo’ong😀 ). Di bulan yang baik ini izinkan saya atas nama director utama blog yang amat sederhana ini mengucapkan “SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA, MOHON MAAF KARENA SAYA BANYAK SALAH”. Tak apalah meski telat seminggu.😀

Sungguh sebenarnya aku sendiri juga bingung mau posting apa, liat di timeline Warung Blogger begitu banyak sobat blogger yang “ap tu det”, mau posting masalah nasehat2 di bulan puasa, kok ya merasa kurang pas, karena saya masih menuntun ke arah yang lebih baik. Akhirnya, sehubungan beberapa waktu lalu saya menemui semacam Jadwal Waktu Sholat yang mana terpampang beberapa iklan baris, salah satunya berbunyi seperti ini

“Merokok PASTI menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dst.”

Langsung geleng-geleng dah membacanya, selain aku ini ada seorang yang doyan udud (rokok), kok berani-beraninya pakai kata PASTI??? pertanyaannya, siapakah yang menentukan sakit? siapakah yang menghendaki sakit? apakah setiap ada sebab pasti ada musyabbab? cukup satu sangkalan, bahwa SETIAP ADA SEBAB, BELUM TENTU ADA MUSYABBAB. Loh, apa buktinya? Jelas donk, kalau seandainya setiap ada sebab pasti ada musyabbab, pastilah Nabi Ibrahim terbakar saat beliau dibakar oleh kaum kafir. So, siapa yang menjadikan api bersifat membakar? jelas donk, ALLAH. Seperti ketika orang sakit, minum obat, pastilah terkadang ia sembuh dan kadang tidak sembuh.

Jadi, yang ingin aku bahas di sini adalah masalah perdebatan HUKUM ROKOK. Sebelumnya, aku tak berhak menentukan suatu hukum karena keterbatasan ilmuku, tapi di sini aku akan mengutip dari berbagai pendapat ulama’. Kalau ditelusuri, perdebatan hukum rokok ini sudah terjadi sejak abad 10 H. Jadi hal ini bukanlah hal baru.

Aku akan mengutip dari pendapat ulama’ yang berasal tanah air terlebih dahulu. Adalah Syekh Ihsan Jampes, Kiyai dari tanah Kediri Jawa Timur yang hidup pada tahun 1901 putra dari KH. Dahlan Jampes Kediri mengarang sebuah kitab klasik yang berjudul إرشاد الإخوان في بيان حكم شرب القهوة والدخان yang lebih populer dengan nama Kitab Kopi dan Rokok. Kitab ini asli goresan beliau yang tertimbun di bilik pesantren, dan baru-baru ini diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Kitab ini sangat langka, tapi ternyata kitab ini tembuh ke pasar Internasional dan dicetak di Arab bersama kitab-kitab beliau yang lain, aku mencoba cari di web kitab klasik pun tidak nemu.

Dalam penjelasannya Syekh Ihsan menjelaskan secara sederhana dengan membagi dua bagian. Pertama ulama yang mengharamkan rokok. Antara lain: Ibrahim al-Laqqani al-Maliki, al-Tharabisyi, al-Muhaqqiq al-Bujairimi, dan Hasan al-Syaranbila. Argumentasi mereka rata-rata didasarkan atas efek samping atau bahaya yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi rokok. Misalnya, merusak kesehatan, melemahkan badan, dan juga berimbas pada pemborosan (isyraf).

Dan yang kedua yang menghalalkan rokok antara lain Abd al-Ghani al-Nabilisi, al-Syabramalis, al-Sulthan al-Halab, al-Barmawi, al-Rusyd, dan Ali al-Ajhury. Mereka menganggap bahwa rokok tidak najis, atau dapat menghilangkan kesadaran. Bahkan, rokok memberikan semangat baru dalam menjalani kehidupan. Baginya, tidak adanya dalil yang dijadikan dasar untuk mengharamkan rokok adalah dalil bahwa menghisap dan mengkonsumsi rokok hukumnya mubah. Kelompok ini cenderung tidak menjeneralisir masalah. Hukum mubah ini adalah berlaku bagi orang yang tidak terganggu kesehatannya atau hilang ingatannya ketika merokok. Pada posisi ini, Syaikh Ihsan tidak terjebak dalam perdebatan dua kubu. Ia malah memberikan jawaban alternatif. Ia berpendapat bahwa merokok adalah makruh. Meski begitu, hukum makruh ini tidak tetap. Bisa berubah jadi wajib, jika seandainya seseorang itu tidak atau berhenti merokok maka badannya akan sakit atau tidak bisa beraktifitas dengan baik. Bisa juga berubah jadi haram, bila alokasi uang yang digunakan untuk beli rokok itu seharusnya digunakan untuk menafkahi keluarganya, gara-gara beli rokok keluarganya jadi tidak makan. (h. 78)

Begitulah keluwesan dan kecerdasan ulama’ dulu, melihat masalah tidak secara saklek, dalil pengharaman rokok secara qoth’i tidak ada, tapi tetap bisa jadi haram karena ada bahaya bagi konsumennya, dan kebanyakan ulama’ menganggap sebagai makruh. Sungguh, sebagai ulama yang berkiprah di era revolusi fisik dan awal kemerdekaan mampu berfikir kontekstual melampaui zamannya, sementara di era keterbukaan informasi sekarang ini justeru banyak ahli agama yang berfikir tekstual. Apa ini kemunduran?

Yang perlu digaris bawahi adalah, kita sedang berbicara masalah furu’iyah (cabang)bukan ushuliyah (pokok), dalam masalah furu’ wajar dan pasti selalu ada perbedaan pendapat yang setiap pendapat mempunyai dalil masing-masing. Jadi, kita tidak bisa menjudge suatu hukum dalam masalah furu’ itu dengan hukum A maka hukumnya udah pasti A, tidak bisa B, C, atau D.  Itu bedanya dengan masalah ushul yang kalau udah A, ya udah pasti A, kalau tidak A maka keluar dari Islam.

Maka sungguh aneh ada yang bilang hukumnya haram secara mutlak, kalau secara mutlak maka harus ada dalil yang jelas mengharamkannya. Padahal tidak ada sama sekali dalil yang mengharamkan rokok. Kalau hanya berdalih berbahaya bagi kesehatan, emang benar, tapi apakah cuma rokok yang membahayakan kesehatan? bukankah gula juga berbahaya? dan betapa banyak zat aditif yang berbahaya bagi tubuh yang dikonsumsi manusia? bahkan aku pernah nyasar di blog seorang wanita yang secara penampilan islami banget, postingannya mengaku pengikut sunnah, tapi ada banner seperti ini terpampang di blognya

Langsung dah gw tutup tuh blog, belum apa2 udah ngelarang orang main silaturrahim. Bukankah itu sifat yang sombong? belum tentu dia itu lebih baik dari pada mereka yang merokok. Dalam hati, ni orang ga pernah belajar ushul fiqih kali yah, pernah mengenyam bangku pesantren apa gak? Kebanyakan yang anti rokok dalilnya cuma krn kesehatan dan mengganggu. Kalau seperti itu dalihnya maka tidaklah bisa menyebabkan rokok itu haram secara mutlak. Bagiku tak masalah ada yg bilang rokok haram, tapi tak bisa secara mutlak. Jika ada yang kekeh mengharamkan secara mutlak, cukup tanya mana dalil qoth’inya.

Maka dari itu, nasehat bagi para perokok adalah. Merokoklah dengan bijak! Seorang perokok sejati itu bisa mengerti SItuasi, KONdisi, TOLeransi, PANtauan, dan JANGkauan. Maka jangan sampai kita yang merokok ini mengganggu yang lain, dan bila emang rokok mulai menyakitimu maka berhentilah.

Contoh Perokok Sejati
model: The Lozz Akbar yang baru ultah, memajang potonya berharap agar ntar mau nraktir kopi dan rokok di warung Mbak Sri. hihihihihi😀

Tak lupa pula nasehat buat yang bukan perokok, Bijaklah menghadapi perokok! Anda benci rokok itu wajar, dan sah sah saja, tapi apa gunanya benci perokok? bukankah itu malah mengotori hati Anda? Dengan tidak merokok itu anda sudah melakukan hal yang baik, tapi dengan membenci perokok, anda melakukan hal yang baik dengan melakukan hal yang tidak baik.

Jadi marilah kita saling berdampingan, saling menghargai, saling mengerti, karena kita ini saling membutuhkan, masalah perbedaan yang seperti ini tak perlu diperdebatkan panjang lebar. Semua ada hikmah dan manfaatnya sendiri. Wallahu’alam

Selamat menunaikan ibadah puasa.😀

13 thoughts on “Antara Aku, Kopi dan Rokok

  1. embuh kudu ngomong opo, rumahku anti rokok, banyak anak kecil. lagian ngabisin duit. kalo menurut dokter paru-paru orang yang meroko jadi hitam, dan pakdheku sakit kanker paru-paru dirawat bertahun-tahun karena hobi rokok. kalo masih doyan ya itu urusan masing-masing deh

  2. buat aku pribadi nih yaa…..
    selama para perokok tidak merokok di tempat umum yang pada saat itu ada banyak orang semisal ibu-ibu, anak-anak dan banyak orang lain, buatku gak masalah.
    selama para perokok gak egois, dan gak merokok diarea yang dilarang untuk merokok, no problemo.
    dan selama para perokok gak mengganggu, misalnya ketika dia merokok di tempat umum dan ada yang terbatuk-batuk karena asapnya. waaahhh, kalau kayak gitu udah jadi masalah, dan seharusnya si perokok harus menghentikan aktivitasnya.

    Jadi, buat para perokok, untuk urusan haram dan halal itu tergantung dari kondisinya kali ya. Setidaknya kami yang termasuk perokok pasif sangat menghormati anda-anda yang perokok aktif dengan tidak menegur anda ketika anda merokok didepan kami, tapi kami juga berharap anda yang perokok aktif mau mengerti kapan waktu anda merokok di tempat umum dan kapan waktu anda untuk menghentikan aktivitas anda.

    Hahahaha, komentku panjang. soalnya aku benar-benar gak suka sama orang yang merokok tanpa lihat situasi dan kondisi.

  3. berbagi kata kata motivasi gan
    Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
    salam kenal sukses selalu, semoga dapat di terima dan ku tunggu kunjungan baliknya ya😀

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s