The Other Side of “Kitab Kuning”


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

salam sejahtera juga buat semua kawan2, lama jg tak update blog sejak puasa kemarin sampe lewat lebaran gini hari,😀 minal ‘aidin wal faa iziin yaa (belum telat kan? :D)

Ngomongin maalah update blog emang aku paling susah deh, gak kayak para blogger laen yang selalu eksis, salut deh, semoga teman2 blogger senantiasa diberi keistiqomahan dalam kebaikan melalui media apapun, diantaranya blog. (lama-lama ceramah ni aku😀 )

Susah juga ngawalin meski sekedar update, enaknya mau diisi apa yah? hehehehe, ahh yang penting sarana silaturrahim ini tetap terjaga, karena jujur kalo ga update blog sangat amat jarang sekali silaturrahim ke temen2 blogger yang laen. Jadi lewat update ini agar bisa tetap saling menjaga tali silaturrahim. (gaya tok😀 )

Waktu pulang kampung kemarin, lagi nata2 lemari, ehhh tak sengaja melihat tumpukan kitab-kitab bekas nyatri di pesantren dulu. Sejenak obrak abrik, dan liat2 isi kitab, dan langsung seketika itu kembali dalam nostalgia klasik jaman di pesantren.

ini kitab Taisiirul Kholaq, kitab tentang akhlaq, dipelajari saat baru masuk pesantren, udah ancur covernya, aku ganti pake buku tulis, malah lebih ancur gitu yah, asli dulu ga pernah perhatian ama kitab. hehehehe😀 awal2 belajar ma’nai gandol, jelek banget euy. hihihi

kalo yg ini kitab Balaghoh al-wadhihah, mempelajari tentang balaghoh atau sastra arab, asik banget belajar kitab ini, menurutku sastra arab lebih indah dari sastra yg lain, ya maklum blm belajar yg lain. hehehe. agar lebih mudah mempelajari kitab ini , nahwu shorofnya harus dimatengin dulu loh ya. kapan2 pengen ngepost sendiri tentang ilmu ini. ntar insya Allah ya.😀

lah kalo yang ini Alfiyah ibn Malik, sapa yang ga tau kitab yg selalu bikin pusing para santri?😀 kitab nahwu yg satu ini bener2 susah bagi yg ga begitu suka nahwu, waktu belajar pelajaran ini mulai kelas 3 MTs sampai tamat aliyah, dan sayangnya selama itu masih malas mempelajarinya, dan efeknya sekarang masih kurang paham baca kitab. payah banget ya aku😦 . Itu ada stempel pesantren dan tanda tangan ustadz tanda kitab telah dilegalisir, setiap kitab akan dicek apakah ma’na sudah lengkap, karena banyak yg kosong karena ditinggal tidur.😀

kalo yang ini Imrithi, lah kalo kitab nahwu yang satu ini lebih easy, simple, dan ga terlalu tebal😀, tapi masih ada yg lebih dasar lagi seperti nahwu Wadhih.
ini kitab Tauhid, Jauharotuttauhiid. Selain kitab ini masih ada yg lebih tipis yaitu Tijanudduror dan Aqidatul Awam, sayang ga belajar Al-Hikam😦 , yang menarik adalah ustadznya, itu ada tanda tangan beliau dan stempel pesantren tanda sudah dilegalisir, beliau sangat menguasai dan tawadhu’, jadi tak pernah bosan belajar Tauhid, agar senantiasa mengenal Allah.
kalo ini kitab Fathul Qarib yg membahas tentang masalah fiqih, kitab ini sudah standart mencakup masalah fiqih dan tidak terlalu sulit memahami isinya dibanding kitab fiqih yg lain seperti Fathul Mu’in. Yang kertas putih itu sisa kertas ulangan.😀

kalo ini kitab Hadits terkenal karya Syekh Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Atsqolani, yapss ini adalah kitab Bulughul Maraam. Layaknya kitab nahwu Alfiyah dan Fqih Fathul Mu’in, setiap pesantren pasti mempelajari kitab hadits ini.

lah kalo yg ini teman2 pasti udah bisa baca sendiri, kitab yg mengundang rasa penasaran, canda dan tawa, yg selalu dinanti setiap kaum adam dan hawa, kitab ini tak hanya teori, tp juga butuh praktek.😀 yaps, inilah Kitabun Nikah. Selalu ada yg menarik membahas kitab seperti ini, seperti membahas kitab yg berhubungan dengan Jima’ (making love), akan selalu menarik dan tak bikin ngantuk. Entah mengandung apa, yang jelas tak seperti mempelajari ruwetnya nahwu shorof.😀

Itulah diantara kitab-kitab klasik yang diajarkan di pesantren, masih ada kitab2 ku yang laen, yg mungkin ga bisa dibahas jadi satu saat ini, masih ada tafsir, mustholah hadits, ushul fiqh, faroidl (ilmu ahli waris) dan lain-lain. Kitab-kitab tersebut adalah buah karya para ulama’ salaf dan kholaf yang harus dipelajari jika ingin memeperdalam ilmu agama.

Selain belajar pada guru, kitab-kitab juga penting, ulama’-ulama’ dulu belajar dari guru-gurunya, sampai pada nabi Muhammad. Jadi kitab-kitab klasik seperti ini tak bisa kita sepelekan. Banyak golongan seperti sekarang yang mengaku-ngaku dan berdalih kembali pada al-qur’an dan sunnah tanpa mau merujuk pada ulama’ salaf dan kholaf. Padahal mereka tidak tau, dari mana mereka belajar al-qur’an dan hadits dengan benar kalau tidak melalui seorang guru? Apa bisa kita langsung menafsiri al-qur’an dan hadits tanpa seorang guru? Pastilah tidak mungkin. Dijaman yg modern ini juga telah disuguhi ironi dunia teknologi informasi, saat mereka yang awam tak punya guru, tak punya pegangan, mencari masalah agama hanya lewat klik Google search. Sungguh, betapa kita merugi kalau tidak mempelajari ilmu agama pada seorang guru yang benar, tak mempunyai pegangan, dan tak mau terus belajar agama. Sungguh derajat orang mulia akan terlihat ketika mereka mumpuni dalam urusan agamanya, bukan dunianya.

Kawan, mari kita senantiasa selalu dan selalu continue dalam mencari ilmu agama dengan berguru, bukan searching, belajar ilmu agama tak semudah SEO blog. Semoga nasihat ini akan selalu hadir dan terlaksana khususnya pada diriku sendiri dan kawan2 semua.

Salam manis dari saya.😀

 

 

 

 

4 thoughts on “The Other Side of “Kitab Kuning”

  1. Ilmu itu memang tidak segampang SEO🙂, that’s right. semoga sayapun bisa menuntut ilmu, meski tidak melalui kitab-kitab kuning dan melalui jalur pondok🙂. dan tidak lewat google juga😆

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s