Curahan Untuk Sang Kyai


Pagi yang senyap…
Terdengar merdunya siulan hijaiyyah
Kalam-kalam melayang di angan
Jemari pun ikut bermain riang
Singkapan gerik seseorang
Tertawan dalam jeruji Ilmu Alat

    Jam terbungkam…
    Waktu seolah tak berputar
    Huruf-huruf riang menertawakan
    Berlari-lari di papan kejenuhan

Impuls tak kunjung datang
Hati bersanggit membantah
Tumbukan rasa tanpa geletar
Menampik momentum di ambang rengkuhan

Sajak di atas adalah sebuah “unek-unek” dari seroang santri putri yang merupakan adik kelasku di Pesantren Al-Amin Mojokerto yang sedang jenuh dengan yang namanya pelajaran membaca kitab kuning. Iseng-iseng membaca isi blognya yang masih sederhana, ada postingan seperti ini. Seketika itu aku jadi teringat masa-masa di pesantren dulu. Tak sadar sudah 3 tahun lebih aku meninggalkan penjara suci itu, meski begitu, istilah “kitab kuning” tak akan mudah terhapus begitu saja dari ingatan para santri.

Dan aku yakin isi dari sajak tersebut tidak hanya dirasakan seorang santri saja, tapi juga semua santri yang mempelajari ilmu membaca kitab kuning. Dalam mempelajari membaca kitab kuning, setidaknya harus menguasai atau minimal paham dengan yang namanya “ilmu alat”, yang lebih terkenalnya ilmu Nahwu-Shorof. Dan termasuk yang merasakan kejenuhan itu adalah aku.🙂

Masalah lebih datang saat yang mengajar adalah “sang Kyai”, di pesantrenku ada 3 Kyai yang memgang kendali pesantren, diantaranya Kyai yang mengajar kitab kuning ini kebetulan beliau sangat penyabar dan sangat kalem. Entah, setiap diajar oleh beliau, dan pasti bukan aku saja, semua santri pasti merasakan seperti di”ninabobokan” oleh suara beliau. Ditambah lagi kitab yang dipelajari, dulu aku pakai kitab “Fathul Mu’in“, salah satu kitab fiqih yang paling njelimet dan ruwet karya Syekh Zainuddin al-Malaibari, tak ayal syarahnya tebal sekali, bagi orang yang sudah expert pun terkadang masih kesulitan mencari “ruju’nya”.

Begitu banyak kenangan di pesantren, sungguh ilmu2 seperti ini tak bisa dianggap remeh, bermula belajar “ilmu alat” atau gramatika bahasa arab, lanjut dengan mempelajari setiap kandungan isi sebuah kitab kuning yang pastinya berbahasa arab, diteruskan belajar hadits, sampai tafsir al-qur’an. Semuanya berurutan, tak bisa terlepas dari satu disiplin ilmu, kalau tak mampu menguasai “ilmu alat”, bagaimana bisa mengerti bahasa arab, dan mana mungkin bisa menafsiri al-qur’an dan hadits?

Untuk adek kelasku, izin repost ya. hehehe😀

15 thoughts on “Curahan Untuk Sang Kyai

  1. Aku dulu nyantri juga, tapi gak belajar kitab kuning😦
    Aku selalu penasaran seperti apa itu kitab kuning. Belajar nahwu shorof aja di madrasah luar sekolah pas SD, belom 6 taon udah belajar nahwu shorof.. gak ada yang nempel di kepala..
    Kamu beruntung pernah belajar kitab kuning..:)

monggo komen ingkang sae ^_^

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s